Wednesday, December 3, 2008

Sempatkanlah waktumu kawan.........

Sorry kalau sdh banyak yang tahu........... Bagi yang belum saja.......
 
Kalau aku sih baru bisa setiap hari sabtu minggu, meski berbiaya besar dan capek aku pasti berusaha pulang, hanya demi mereka. (Anak2 dan istriku).
 
KEPADA MEREKA YANG SIBUK BERKARIR
Seperti biasa Rudi, kepala cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di
Jakarta, tiba di rumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron,
putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia
nampaknya sudah menunggu cukup lama.

"Kok, belum tidur?" sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang
sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke
kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imron
menjawab, "Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji
Ayah?"

"Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi, ya?"

"Ah, enggak. Pengen tahu aja."

"Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari Ayah bekerja sekitar 10 jam dan
dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja.
Jadi, gaji Ayah dalam satu bulan berapa, hayo?"

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara
ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju
kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

"Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jam
ayah digaji Rp 40.000,- dong," katanya.

"Wah, pinter kamu. Sudah, sekarang cuci kaki, bobok," perintah Rudi.

Tetapi Imron tak beranjak. Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian,
Imron kembali bertanya, "Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?"

"Sudah, nggak usah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini?
Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah."

"Tapi, Ayah..."

Kesabaran Rudi habis. "Ayah bilang tidur!" hardiknya mengejutkan Imron. Anak
kecil itu pun berbalik menuju kamarnya. Usai mandi, Rudi nampak menyesali
hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu
belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang
uang Rp 15.000,- di tangannya.

Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata, "Maafkan
Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam
begini? Kalau mau beli mainan, besok' kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih
dari itu pun ayah kasih."

"Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah
menabung lagi dari uang jajan selama minggu ini."

"Iya,iya, tapi buat apa?" tanya Rudi lembut.

"Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga
puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga.
Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-. Tapi
karena Ayah bilang satu jam Ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam
harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam
dari Ayah," kata Imron polos.

Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

(Saya tidak tahu apakah kisah di atas fiktif atau kisah nyata. Tapi saya
tahu kebanyakan anak-anak orang kantoran maupun wirausahawan saat ini memang
merindukan saat-saat bercengkerama dengan orang tua mereka. Saat dimana
mereka tidak merasa "disingkirkan" dan diserahkan kepada suster, pembantu
atau sopir. Mereka tidak butuh uang yang lebih banyak. Mereka ingin lebih
dari itu. Mereka ingin merasakan sentuhan kasih-sayang Ayah dan Ibunya.
Apakah hal ini berlebihan? Sebagian besar wanita karier yang nampaknya
menikmati emansipasi-nya, diam-diam menangis dalam hati ketika anak-anak
mereka lebih dekat dengan suster, supir, dan pembantu daripada ibu kandung
mereka sendiri. Seorang wanita muda yang menduduki posisi asisten manajer
sebuah bank swasta, menangis pilu ketika menceritakan bagaimana anaknya yang
sakit demam tinggi tak mau dipeluk ibunya, tetapi berteriak-teriak memanggil
nama pembantu mereka yang sedang mudik lebaran.)


-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
"Transmisi ini mungkin berisi informasi yang bersifat pribadi, rahasia dan tertutup untuk
dipublikasikan berdasarkan Hukum dan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku di
wilayah Republik Indonesia. Jika Anda bukanlah penerima yang dituju, bersama ini Anda
diperingatkan bahwa semua publikasi, penggandaan, pendistribusian, atau penggunaan
informasi yang ada disini (berikut semua informasi yang terkait) adalah SANGAT
TERLARANG. Jika Anda menerima transmisi ini tanpa disengaja, harap segera hubungi
pengirim dan hapus material ini seluruhnya, baik dalam bentuk elektronik maupun
dokumen cetak. Terima kasih."
-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

No comments: